Posted By Selly Nur Rohmah
Alkisah seorang anak muda yang sedang bersedih hati, tengah duduk- duduk
di sebuah taman. Dia menempati sebuah bangku yang hanya ada satu bapak
tua saja disebelahnya. Anak muda tersebut kemudian mengajak si pak tua
bercakap- cakap sambil melepas lelah dan menghangatkan suasana.
Dia kemudian menceritakan tentang begitu banyak penderitaan serta
kekurangan dalam hidupnya. Sesekali dia menangis sambil menyeka air
matanya. Sungguh sangatlah berat beban di hatinya.
Setelah beberapa saat mereka menghabiskan waktu bersama, anak
muda tersebut berkata kepada bapak tua, " Kau lebih tua dari pada aku,
maka berilah aku ilmu tentang pengalaman hidupmu". Si bapak tua hanya
tersenyum, lalu dia berkata,
"anak muda, bagaimana pendapatmu, kalau ada seseorang yang kaya, yang
bersedia membeli matamu itu dengan harga berapapun yang kau mau? apa kau
bersedia? "
" Tidak, aku tidak akan mau, walau berapapun dia membayarku. Bukankah
kesehatan itu jauh lebih berharga, pak tua?" Jawabnya tersebut
bersemangat.
" Lalu bagaimana kalau dia mengganti pilihannya dengan membeli kedua
kakimu? mungkin dengan harga yang lebih mahal lagi misalnya" Lanjut pak
tua tersebut.
" Apa gunanya semua uang itu pak tua, kalau aku tidak bisa menikmati dunia ini karena aku pincang?. Aku tidak mau"
" Kalau tanganmu saja?"
"Tidak mau!" jawab si anak muda singkat.
"Baiklah, kalau begitu bagaimana kalau dia membeli hatimu saja?" tanya pak tua sambil tersenyum.
" Pak tua, ada apa denganmu? aku meminta nasehatmu, malah kau
menyarankan menjual organ tubuhku. Aku pasti tidak akan mau. Walaupun
mereka membelinya dengan harga milyaran sekalipun." jawab anak muda tadi
dengan sedikit marah.
Si bapak tua tertawa, serta geleng- geleng kepala melihat anak muda yang duduk di sebelahnya .
" Hay anak muda, jika kau sudah beroleh nikmat seharga milyaran dari
Allah, lalu atas tujuan apa lagi kau masih mengeluh? dimana rasa malumu
pada Tuhanmu?. Kau masih muda, kau masih mampu melakukan segalanya, kau
kuat. Ingatlah, satu hal yang merenggut kesenangan dan kedamaian
hidupmu, adalah keluhanmu dan rasa tidak bersyukurmu itu".
"Lalu...?" tanya anak muda tersebut dengan masih terbengong.
" Kesenangan itu tidak hanya sebatas harta dan materi semata. Sadarilah,
bahwa keimanan, kesehatan, keluarga, kepandaian, ataupun teman yang
baik, dan sebagainya adalah nikmat yang tidak terhingga. Allah memberi
semua itu, bahkan saat kita tidak meminta sekalipun. Bukankan Allah
itu sangat baik?. Maka syukurilah semua itu. Dan jangan hanya mengeluh".
Mendengar semua wejangan dari si bapak tua tersebut, si anak muda hanya
terbengong tanpa bisa berkata apa- apa. Dan belumlah selesai semua itu,
sang bapak tua kemudian meninggalkan tempatnya duduk.
Beliau berjalan dengan menggunakan tongkat karena ternyata beliau buta,
dan hanya memiliki sebelah kaki saja. Saat mencoba berdiri, wajah
beliaupun terlihat lebih pucat. Anak muda tersebut terperangah melihat
keadaannya. Dan sebelum bapak tua itu benar- benar pergi, si anak muda
bertanya,
" Kau tampak pucat, apa kau sakit?"
" Sudah 2 tahun ini, bapak sakit liver. Dan sudah sebulan lebih, setiap
pagi bapak menghabiskan waktu disini, untuk sekedar menghibur diri. Dan
kau tahu anak muda, walaupun keadaan bapak seperti ini, tapi bapak tidak
mau marah pada Allah, malah sebaliknya bapak ingin
selalu belajar bersyukur, bahwa sampai saat ini bapak masih diberi
nafas, paling tidak untuk bisa tertawa ketika bersamamu tadi." Jawab pak
tua dengan senyum.
Dan Beliaupun akhirnya meninggalkan si anak muda yang masih tetap
terpaku dengan seribu satu pikiran yang ada di kepalanya.(voa-islam)



















0 komentar:
Posting Komentar