SMA Negeri 2 Prabumulih. Diberdayakan oleh Blogger.
RSS
Container Icon

FIRST LOVE

Posted By Selly Nur Rohmah

langkahnya kian menjauh, tubuh lusuhnya kini tak terlihat lagi dia telah pergi semakin jauh semakin tak terjangkau dari penglihatanku dan menghilang.
“ah sial cepat sekali dia perginya, aku menyesal aku menyesal.. kenapa kau selalu menghindar dariku, aku yakin bahwa itu kau angga”.
Tangisku pecah ditengah keramaian kota, aku tidak perduli orang yang berbisik bisik membicarakanku, ku langkahkan kaki menuju ke arah mobil untuk kembali pulang. Aku ini punya segalanya, pendidikan, harta, suami tampan dan cerdas. tapi kurasakan itu tidak membuatku merasa bahagia semua ini kosong ragaku tidak disini betapa penyesalan yang amat besar menghampiriku seperti ada batu besar diatas pundaku, berat sekali menanggung ini semua.
ku putuskan untuk menenangkan diri diatas rerumputan di taman depan rumahku, aku menyukai tempat ini aku merasa tenang dengan kicauan burung itu dengan hembusan angin yang lembut seakan tulus menemaniku dalam kesedihan ini, langit yang biru itu tidak seperti terlihat oleh kedua bola mataku, aku merasa hari ini mendung padahal cuaca sedang cerah terang benderang, hebat sekali perasaan ini bisa membuat hatiku merasa sedih seperti cuaca mendung dengan seketika. bayangan itu muncul lagi saat-saat bahagia aku bersama dia.
Raut wajah yang manis itu selalu membayangi setiap kedipan mataku, menjelma menjadi udara yang selalu ku hirup. aku selalu tersenyum bahagia melihatnya.

“I think I love you….”suara messege dari dia yang selalu membuatku bahagia.
“Selamat pagi Raya, I love you.”
“Selamat pagi juga sayang,I love you too.”

selalu itu yang dia katakan setiap pagi datang menyapaku dan memberikan kata sayang, mungkin itu terdengar biasa tapi bagiku itu luar biasa, karena dia bisa mencintaiku dengan sangat tulus, ya.. aku tau aku bisa merasakannya.. kini aku duduk dikelas 2 SMp aku mengenal dia lewat sahabatku, tidak kusangka hubungan kita akan sejauh ini dan sedekat ini, tapi entah kenapa semakin hari aku merasa bosan dengan kehadirannya, namun dia selalu saja meyakinkan aku kalau dia sangat mencintaiku, yah kadang aku berpura-pura membalas cintanya.
“Raya, ada yang salam tuh” ucap Reni sahabatku.
“Siapa?”, tanyaku dengan raut wajah heran.
“Febrian, kau tahu kan yang anak kelas 2.1″
“Apa?? serius kamu?? Febrian yang tampan itu, yang populer dan cerdass..”
“Dua rius Ray, masa aku bohong.”
“cie cie yang dapat salam dari Febrian bahagianyaa, si Angga mau dikemanain Raya..” ledek Mila
“Mau aku karunginn trus lempar ke laut.”
“Busett.. jahat amat lu,”
“hahaha…Ya ngga beneranlah, kamu kira aku wonder woman punya kekuatan segede itu buat bungkus dia di dalam karung trus lempar ke laut..”
“yee kali ajakan lu temennya wonder women…hahaha..”
“Hai Raya”.
suara pria itu menghentikan obrolanku dengan teman-teman, semua langsung terasa hening dan ku balikkan badanku ke arah pintu kelas yang rapuh itu, oh my God.. itu Febrian… aku tidak ingin merasa gugup di depannya, aku berusaha biasa saja, yah mungkin itu sangat sulit tapi setidaknya itu bisa sedikit membantu.
“Hei, h h Hai Feb, tumben kesini”. suaraku tercekat oleh kegugupan.
“Aku ingin bicara dengan mu, di taman. Apa kau ada waktu?” Ajak Febrian dengan mata berbinar.
“Tentu.”
aku berjalan ketaman melewati koridor dibelakang mengikuti Febrian.
“Raya, sebenarnyaa…” ucap Febrian berusaha memulai pembicaraan
“Iya… kenapa?”tanyaku tak kalah gugup.
“Ray, sebenarnya aku selalu memperhatikanmu tanpa kamu sadari. saat kamu makan dikantin, saat kamu bercanda dengan temanmu, saat kamu duduk dikelas memperhatikan guru.”
“ett… tapii kamu ga ngikutin aku ke WC sekolah kann???” tanyaku menyelidik.
“ehmmm gimana yahh,, kalo iya kenapa??
“ihh, gilaa kamu.” spontan aku marah sambil memukul mukul punggungnya.
“hahaha,, ihh dengerin duluu aku becanda, masa aku ngikutin kamu sampai ke WC, emangnya aku penjaga WC apa..hahaha”. Tertawa puas berhasil mengerjaiku..
“Benerr?? awasss kalo kamu bohong, udah deh langsung aja kamu mau ngomong apa tadi??” hening kembali.
“Aku cuman mau bilang, Raya aku sayang banget sama kamu, kamu mau ga jadi pacar aku?”,
aku tersipu malu, tidak tahu harus menjawab apa, aku bingung.
“Aku akan pejamin mata aku, kalau kamu tolak aku, kamu cubit saja pipiku ini, tapi kalau kamu terima cintaku, kamu genggam tangan kananku.” ucap Febrian memberikanku pilihan.
Aku tidak mungkin melewati kesempatan bagus ini, Febrian pria populer di sekolah ini sekarang tunduk dihadapanku, aku seperti orang yang tidak tahu arah, ku genggam tangan pria itu dan dia tersenyum bahagia.
“Aku juga mencintaimu” jawabku menahan haru sambil menggenggam tangannya.
“Terimakasih Raya, aku sangat bahagia hari ini”.
I think I love you…messeg from Angga, “Sayang kamu sudah pulangg?? aku jemput yah..!”
“sudah, tapi kamu ga usah jemput yah, aku pulang sama teman-teman aja.”"
“Tapi aku sudah ada di depan gerbang sekolah kamuu, aku tunggu disini.”

Damn..! dia selalu saja begitu. untung saja hari ini Febrian sedang ada rapat Osis, jadi dia tidak bisa mengantarkanku pulang.
Hari demi hari aku mulai menjauhi Angga, aku tidak bisa putusin dia, aku tidak punya cukup alasan buat ninggalin dia, dia terlalu baik dia tidak pernah menyakiti aku..tapi aku selalu merasa kurang, Angga dengan stelan kaos oblong yang sering dia kenakan sehari-hari dia hidup sederhana bersama kedua orang tuanya, boleh dibilang itu bukan rumah yang layak…tapi dia bekerja keras untuk itu, membahagiakan kedua orang tuanya dan aku.
pagi yang mendung ini mengaburkan memori menghilangkan kenangan yang dulu begitu indah dan kemudian menghilang dalam kehampaan yang membiisu menggerogoti hati mencaci setiap pernyataan jiwa..
aku bagai orang tak tahu berterima kasih, tapi setidaknya aku tahu diri. Angga yang sudah jelas tulus menyayangiku ku abaikan begitu saja demi seseorang yang baru, ku lupakan begitu saja seperti matahari yang redup saat malam menjelang kemudian berpindah memberikan cahayanya kebelahan bumi yang lain.
“Rayaaa… ” suara febrian membuncahkan lamunanku.
“ehh.. heii.. “
“Dari tadi aku perhatiin kamu melamun teruss, ada masalah??” Tanya Febrian keheranan
“Ngg, aku cuman lagi mikirin sesuatu, ga ada apa- apa ko sayang.. :) “
“Kamu lagi Bohong ya?”
“Loh ko bohongg,, jadi kamu ga percaya?”
“NGGA…aku tahu kamu pasti daritadi lagi mikirin aku, iya kann? hayo ngakuu..hahaha”
“Ih narsis banget, haha..:p”
“Kamu tahu ga bedanya matahari sama cintaku ke kamu?”
“hmmm… APaa yaa?? Apa dongg?? kasih tau ngga yaa… -,-”. Nada lebay
“Ihh udah deh ga usah lebay sayang -,-”
“hahahhaa,, apaa aku ngga tauu :( “. Jawab Raya dengan muka memelas.
“Matahari menerangi dunia hanya siang hari, tapi cintaku akan selalu menerangi hari-hari kamu sepanjang hari tanpa mendung :)” Jawab Febrian menggombal
“yee,, Itu sih Rayuan Gombal…hahaha…. Lumayan. Eh yank, Bapak kamu Polisi yah?” Tanyaku tak mau kalah dengan gombalannya dia.
“Iya, ko kmu tau?”
“karena bapak kamu telah menggembok hati aku hanya untuk kamu..”
“so sweet sayang, :) semoga hati kamu benar-benar hanya untuk aku ya :)”
Jleb banget, salah gombalan ternyata.. kembali hening dan rasa bersalah itu muncul kembali. beruntung bel segera terdengar dan kegiatan belajarpun di mulai kembali sehingga aku tidak perlu menjawab apa yang dia tanyakan sehingga aku bisa melarikan diri dari perasaan ini bersembunyi diantara dinding-dinding dingin itu.
untuk yang kesekian kalinya aku pulang sekolah bersama Febrian, aku selalu menolak dijemput Angga, akhir-akhir ini aku selalu memarahinya, aku sedang mencari alasan untuk memulai satu kata “Putus”, tapi dia tidak pernah balik membentak aku, begitu kuat perasaan dia hingga aku sulit merobohkan hatinya.
Aku beranikan diri menelfon dia pertama, berharap hubungan ini akan berakhir sekarang. aku lelah berpura-pura. aku memang mencintai dia, tapi aku menyadari cinta saja tidaklah cukup.
“apa kamu punya waktu sebentar saja untuk kita bicara berdua??”, tanyaku lembut
“malam-malam begini??”, tanya Angga meyakinkan kembali
“Iya, sebentar saja apa kamu bisa???”
“yaudah, aku jemput kamu sekarang ya? “
“ngga usah, aku tunggu kamu di cafe mochi nanti kita ketemu disana saja..!”
aku sampai di caffe lebih awal, ku lihat jam berkali-kali tapi dia tak kunjung tiba, lama sekali tidak biasanya dia terlambat seperti ini. ku lihat dinding demi dinding di cafe ini, tidak terlalu ramaii cocok romantis sekali suasanyanya, berhiaskan lampu-lampu lilin disetiap meja. Salah, aku salah memilih tempat.
“Selamat malam mba, mau pesan makan apa?” tanya waitress itu dengan suara khas nya yang ramah dalam menawari pelanggan.
“Saya lagi nunggu teman, jadi sementara saya pesan minuman dulu deh.” Jawabku sambil melihat-lihat menu.
“Boleh mba, mau minum apa?”
“Cappucino hangatnya satu ya?”
ku tatap kembali jam coklat di tanganku, waktu telah jam 10 aku sudah menunggu 30 menit disini.
“Malam sayang, maaf ya kamu udah nunggu lama” sapa Angga dengan lembut dengan penuh senyum
aku tertegun melihatnya dia menyapaku dengan tatapan penuh cinta, mengecup pipi ku dan membawakan aku bunga mawar, mawar putih kesukaanku.
“Kemana dulu kamu? aku udah nunggu kamu 30 menit disini..!” jawabku dengan nada tinggi
Angga terdiam sejenak melihatku berbeda, tak biasa aku berbicara seperti ini. mungkin aku jahat, tapi ini yang harus aku lakukan.
“kamu ini kenapaa sih, ya maaf kalo aku beli mawar ini dulu buat kamu, toko bunganya jauh dari sini.” jawab Angga masih bertahan dengan kelembutannya.
“siapa suruh kamu beli bunga dulu, aku kan ga minta.”
“Ya udah aku minta maaf, masalah kaya gini ga perlu diperbesarkan, sayang maafin aku ya?” sambil menggenggam tangan aku.
seketika hening, aku tidak bisa berkata apapun, dia begitu lembut. Harusnya aku yang minta maaf, aku ini memang jahat, tapi aku bingung. aku hanya bisa diam dan menangis dalam hati, tapi ini semua tak terbendung lagii setetes airmata jatuh dari kelopak mataku, aku menyadari mungkin harus aku ungkapkan semua, aku tak ingin menyakitinya lagi lebih, aku tidak mau berpura-pura lebih lama.
“Raya… Hei, kamu kenapa? kenapa nangis? dengan suara lirih dia bertanya. aku tahu dia tidak tega melihatku menangis, tapi ini membuatku makin sakit dada ini sesak sekali.
“Aku udah minta maaf, apalagi yang kamu mau Raya, mau kamu apa? aku turutin sekarang tapi kamu jangan nangis ya.”
“Aku mau kita putus.”
Dengan tegas akhirnya aku ucapkan juga yang telah lama ku pendam selama ini. Aku tidak mau lama-lama membohongi dia lagi, semua sudah cukup membuat dia sakit. Maaf.
Hari demi hari ku lalui tanpa Angga, aku memang merasa cukup lebih baik bersama Febrian, tapi Angga masih begitu rajin mengirimiku sms patah hati, entah dari mana ia menemukan kata-kata ini meski dia masih belum mau menerima semua ini.
“Ternyata aku hanyalah sebuah jeda dalam nafasmu, dan dia adalah udara dalam hidupmu, jelas saja kau lebih membutuhkan dia daripada aku.”
“Jeda ini terlalu berat untukku. seharusnya tak kau hentikan paksa kisahku. kisah yang ku bangun dengan seribu airmata kau hancurkan seketika.. Aku masih akan mencintai kamu Raya, selamanya. kamu ingat itu, ini begitu berat untukku, karena kau terlalu berarti dalam hidupku.”
Aku jelas selalu mengabaikan semua sms itu sampai saatnya dia berhenti menghubungiku lagi, tiba-tiba dia menghilang begitu saja, tentu saja aku senang dengan ketidak ada kabarnya Angga, jadi dia tidak mengusik hidupku lagi, baguslah.
Tahun demi tahun aku lalui bersama Febrian, aku memang masih merasa telah memilih laki-laki yang tepat sampai akhirnya aku memutuskan untuk menikah dengan Febrian. Karena kegiatan dia sangat padat, dia jadi tidak memiliki cukup waktu untukku di rumah dia sering pergi keluar kota untuk urusan pekerjaan sedangkan aku hanyalah seorang penulis, ya kegiatanku disini hanya diam dan menatap monitor setiap hari. Aku mulai jenuh dengan kesepian ini aku mulai rindu dengan sosok Angga, tapi aku tidak berhak lagi memikirkan dia. Sekarang aku mengerti satu hal, cinta sejati tidak dapat diukur dengan ketampanan, kecerdasan, atau materi. Aku rindu Angga.
Tidak terasa sudah seharian aku diam dihalaman depan rumah, memikirkan seseorang yang sudah tidak ada, mungkin saja dia juga sudah melupakanku dan hidup bahagia disana dengan wanita lain.
Tiba-tiba ada yang menutup mataku dari balakang, aku tahu aroma wanginya aku kenal dia Febrian suamiku.
“Kejutannnn..” ucapnya dengan antusias
“loh pah, ko kamu sudah pulang katanya mau langsung ke Surabaya mau ketemu klien kan disana.”
“Pertemuannya di undur mah minggu depan.”kata Febrian sambil memelukku
“Oh iya, kamu sudah makan pah? Bentar mama siapin makanan dulu yah”
“Mah, kita makan malam diluar saja yuk, aku rindu sekali denganmu.”
Kami pun pergi makan malam diluar.  Mobil ini jalan pelan sekali seperti siput, entah kenapa dia bawa begitu pelan katanya ingin berlama-lama denganku. Aku juga heran dengan sikap dia hari ini sangat beda dari biasa.
Namun malam ini terlalu hening aku perhatikan mobil lain melaju sangat kencang dan aku hanya duduk diam menatap lampu-lampu jalan yang berwarna kuning keemasan memancar ke arak mataku, diantara warung-warung kecil di pinggir jalan itu ada sesosok lelaki sedang bernyanyi, pengamen jalanan. Mobil ini berhenti sejenak membiarkan kendaraan dari arah lain lewat dalam sorotan lampu merah itu, aku masih terdiam dan Febrian menggenggam tanganku erat.
Diantara hiruk pikuk kesibukan malam aku mendengar sebuah lantunan lagu romantis, suara pengamen itu merdu sekali seakan menghayati lirik dari lagu itu, aku pun mengambil uang receh seribuan dan membuka kaca mobil dengan niat memberikan uang kepada pengamen.
Tiba-tiba jantungku berdegup kencang, dadaku kian sesak melihat sosok lelaki-laki kurus jangkung berdiri dihadapanku saat ini. Ternyata itu benar kau Angga, kau yang selama ini aku rindukan. Namun dengan sekejap dia menghilang kembali dari kedua bola mataku aku ingin sekali mengejarnya, tapi tidak bisa. Kini aku bersama Febrian. Dia mencintaiku meskipun dengan segala kesibukannya itu.
Angga berlari ke arah mobil yang sedang berjalan dari arah lain, dan kecelakaan itu pun terjadi di hadapan ku.
“Anggaaaa….” Tanpa sadar aku berteriak histeris melihat sosok penuh luka itu
Dan berlari keluar dari mobil mendekati Angga yang kini terbaring kaku penuh luka
Aku menangis menangis sejadi jadinya, aku tidak percaya ini semua bisa terjadi kepadanya, malang sekali. Dia sudah tidak tertolong lagi, nafasnya semakin redup dan cahaya itu mulai hilang.
“Apa kamu kenal dengan pria ini?”sosok pria dari belakang membuncahkan lamunanku. Aku hanya diam tanpa memberi penjelasan. Dia pun mengerti dan mulai memelukku erat.
“Kamu tidak usah khawatir dia akan tenang di Surga, mah, sekarang kamu jangan menangis lagi ada aku disini. Aku janji akan mencintaimu dan sedikit mengurangi kesibukanku untukmu”

Suasana malam ini berubah dengan luka dan kepedihan. Angga kini sudah tidak ada di dunia, aku menyesal menyia-nyiakan dia. Disaat aku merindukannya kini dia sudah tidak ada.
Angin malam ini meniupkan keheningan, mengeringkan airmata pergi bersama udara mengantarkan pesan kesedihan dan kerinduanku kepadanya. Aku tidak akan melupakan mu, kau adalah cinta pertamaku. Aku akan selalu ingat itu. Masa-masa indah kita dulu. Semoga kau tenang di sana sayang. Aku akan selalu berdoa untukmu. Terimakasih telah memberikan aku kenangan yang sangat indah saat bersamamu, merajut tali kasih kita dengan kesabaranmu menghadapiku. Selamat tinggal Angga.
****

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

0 komentar:

Posting Komentar